Kamis, 26 Juli 2012

Nasihat Eyang Untuk Cucunya

Lama sekali rasanya untuk kuliah yang satu ini
Profesi ekstrim yang bersifat kemanusiaan, dan menolong sesama orang yang membutuhkan bantuan medis. Ya, itulah bekerja di jalur  kesehatan. Butuh waktu 2tahun lagi untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) . Dan koas selama 4 semester untuk bisa mendapatkan gelar (dr) didepan nama kita.
Contohnya : Ch.Leuwisnawa I.Dj , S.Ked  (menjadi) dr.Ch.Leuwisnawa I.Dj .
Amin ya robbal'alamin... Semoga langkah yang penulis ambil tidaklah salah. Semoga ilmu yang penulis punya bisa bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan medis. Ibaratnya kalau penulis sekolah itu masih kelas 3 dari 7 kelas yang ada. Butuh 4tahun lagi untuk mendapatkan itu semua. Tapi jangan patah semangat. Memang kuliah dan menekuni profesi seperti ini tidaklah gampang. Karena yang kita hadapi adalah manusia, penyakitnya yang harus kita sembuhkan , tapi itu semua semata-mata datangnya dari Allah SWT lewat tangan kita. Kita itu sebagai perantara akan kebesaran Allah SWT (Allah Almighty).
Harus selalu ikhlas dan rajin untuk membaca buku yang benar-benar tebal, meminta ilmu atau bertukar pengalaman dengan para dokter senior. Jangan malu untuk bertanya. Tidak apalah dikatakan orang rese juga, resenya kalau mencari ilmu ya tidak masalah.
Penulis suka berbagi cerita dengan eyang. Kebetulan eyang dari penulis adalah seorang dokter lulusan 'STOVIA' atau 'Geneeskundige Hoogeschool' atau 'Ika Daigaku' atau yang sekarang lebih dikenal dengan 'Universitas Indonesia' (UI). Beliau hebat, tidak seperti penulis. Cara bicaranya juga enak untuk disimak, penjelasan-penjelasannyapun. Tetapi eyang sudah sangat sepuh sekarang. Beliau hanya menghabiskan waktu di pura dengan suaminya. Mendekatkan diri pada sang pencipta. Banyak buku-buku yang penulis ambil dari eyang. Bukunya banyak yang menggunakan bahasa Belanda dan Inggris. Karena dulu negara kita di jajah oleh Belanda.
Beliau bercerita tentang pengalamannya kenapa bisa menjadi dokter?
Beliau jawab, "karena dulu tenaga medis sangatlah kurang. Kebetulan orangtua mendukung, untuk menjadi seorang dokter jaman dulu sangatlah susah. Kemampuan , otak yang dipakai, tidak seperti sekarang, apa-apa harus uang, kalau tidak ada uang, ya silahkan cari yang lain atau gugur. Makannya sekarang banyak malpraktek , karena kualitas atau kemampuan dari individunya sangat rendah, bukannya merendahkan. Tetapi inilah kenyataannya, secara kasat mata atau orang awam bilang, jadi dokter itu 'angel' (bahasa jawa) alias susah. Butuh keterampilan, ketekunan, keramahan, senyum,sapa, berbagi ilmu dengan sesama dokter. Ini yang perlu di komunikasikan. Jadi dokter itu dasarnya harus kuat, kalau orang mau bikin rumah itu pondasinya harus kuat sebelum menopang tembok, kayu dan gentengnya. Rajin baca buku, rajin belajar, bertanya dan menimba ilmu, ikut seminar, dipraktikan, maka ini tidak akan rugi. Yang eyang perhatikan selama ini, dokter sekarang kebanyakan asal-asalan. Seperti tidak ada etikanya. Mereka lupa akan tugasnya, terlalu enak memakai jas putihnya. Padahal jas putih dan stetoskop yang iya kalungkan dilehernya bisa mematikan dirinya sendiri. Jadi dokter bukan untuk gaya-gayaan. Tapi ini sebuah tugas mulia , beban yang harus ditanggung , karena ini sudah menjadi pekerjaan paten. Tidak bisa dirubah. Beda dengan orang ekonomi, yang bisa kerja kemana saja. Kalau sekolah itu seperti jurusan IPA, IPS, Bahasa. Nah, kalau kuliah yang bisa kemana-mana itu jurusan Ekonomi (IPS) , mereka bisa kerja kantoran, swasta, pemerintahan, dinas instansi, sekolah, dll. Tapi kalau kuliah jurusan Kedokteran (IPA) , masa mau kerja jualan? Tambal ban? Atau yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia kedokteran? Wah ini gawat namanya. Ingat, dokter itu tidak gampang , butuh proses yang panjang. Eyang umur 40tahun saja masih pegang baca buku. Banyak sekali ilmu yang bermanfaat untuk diserap, diambil sarinya. Sampai sekarang mau umur 80 tahun pun masih sempat-sempatnya baca buku. Apalagi kamu yang masih muda. Generasi muda harus bisa bertanggungjawab untuk kedepan. Jangan mencontoh dan meniru hal-hal yang tidak baik. Ingat , dokter punya etika. Kedepankan rasa kemanusiaan dan berjiwa penolong. Ini semua dari Tuhan, Tuhan Hyang Widhi Wasa, kalau untuk bagus, Allah SWT. Bacalah Al-Qur'an, disana banyak tersimpan rahasia tentang kesehatan. Jangan pernah sungkan untuk bertanya pada siapapun, apapun sukunya, agamanya, rasnya, seorang dokter jangan pernah melihat itu. Semuanya sama, rekan kerja kita, ingat tattwamasi ya...rasa saling memiliki. Berjiwa besar menjadi seorang dokter. Jangan pernah menyerah sama waktu. Kamu masih muda, 16 tahun sudah sekolah dokter yang seharusnya masih duduk dibangku SMA. Hebat. Eyang tau ini bukan kemauan kamu, tapi eyang yakin, gus bukan anak bodoh, karena sejatinya orang itu tidak ada yang bodoh, tetapi dibedakan antara yang malas dengan yang rajin. Maka rajinlah, mumpung masih muda. Kalau sudah tua seperti eyang, dan belum bisa memberikan apa-apa, kalian mau jadi apa nanti? Lihat 24 figura disana. Itu penghargaan yang eyang dapat waktu tugas kemanusiaan di Amerika tahun 1957, Darwin Australia, India, dan tugas di Yunani. Aji kamu masih kecil, sudah eyang bawa kemana-mana dia. Tetapi ketika menginjak usia sekolah, eyang putuskan untuk dia sekolah di Indonesia saja. Untung eyang akungmu bukan dokter, dan untung waktu itu baru punya anak satu. Karena eyang dapat tugas selalu di luar, kalau pulang ke Indonesia itu 1bulan sekali dan itu lamanya 4hari, habis itu berangkat lagi. Tapi dibalik itu semua banyak ilmu yang eyang dapat. Kamu harus bisa melebihi eyang. Harus janji ya, kamu harus bisa ngalahin figuranya eyang. Harus lebih dari 24 figura. Bahasa Inggris mu, harus sering dilatih lagi, bekal untuk bisa mendapatkan beasiswa keluar negeri untuk kuliah lagi. Ora et labora. Ingat itu gus, jangan lupa sama Tuhan. Kenikmatan didunia hanya sementara, dokter muda"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar